Petani Kelapa Wajib Waspada! Kemarau 2026 Bisa Menentukan Nasib Panen hingga 2028

Jumat, 26 Juni 2026 | 23:35:38 WIB

BACE - Musim kemarau puncak yang diprediksi berlangsung pada Juli hingga September 2026 perlu menjadi perhatian serius bagi petani kelapa, BMKG juga menyebut musim kemarau 2026 diprediksi lebih kering dan lebih panjang dari normalnya, serta perlu diantisipasi untuk sektor air, kesehatan, pangan, dan karhutla(10/06/2026).

Perlu perhatian khusus pada daerah sentra seperti Indragiri Hilir. Meski pohon kelapa selama ini dikenal sebagai tanaman yang tangguh, dampak kekeringan tidak selalu terlihat secara langsung dari luar. Daun yang masih tampak hijau bukan berarti tanaman sedang dalam kondisi aman.

Dr. Rachmiwati Yusuf, S.Pi., M.Si., Peneliti Ahli Madya BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) Pusat Riset Tanaman Pangan, menjelaskan bahwa prediksi cuaca bukan sekadar informasi umum bagi petani kelapa.

Menurutnya, kelapa memiliki sistem fisiologis dan biologis yang membuat dampak kekeringan dapat berakibat panjang terhadap produktivitas tanaman.

“Banyak petani menganggap kemarau sebagai masalah sesaat karena melihat daun kelapa tetap hijau. Padahal, dalam proses pertumbuhan kelapa, apa yang terjadi hari ini dapat menentukan panen dua tahun ke depan,” jelas Dr. Rachmiwati.

Dr. Rachmiwati menegaskan, “Pembentukan buah kelapa membutuhkan proses yang panjang, mulai dari inisiasi primordia, pembentukan bunga, hingga menjadi buah yang siap dipanen. Ketika pohon mengalami stres air pada masa kemarau puncak, tanaman akan memprioritaskan energi untuk bertahan hidup. Akibatnya, bakal bunga yang sedang terbentuk bisa gagal berkembang atau membusuk”.

Kondisi ini membuat dampak kemarau tidak langsung terasa pada saat itu juga, melainkan dapat muncul pada periode panen berikutnya. Setelah melewati kemarau berat, pohon kelapa juga tidak bisa langsung kembali berproduksi normal begitu hujan pertama turun. Rachmiwati menyebutkan, tanaman membutuhkan waktu sekitar 12 hingga 24 bulan untuk pulih sepenuhnya.

Karena itu, mitigasi sejak dini menjadi kunci penting. Petani kelapa diminta tidak hanya menunggu hujan, tetapi mulai menjaga kelembapan tanah, memperbaiki tata air kebun, serta memperhatikan tanda-tanda awal stres air pada tanaman. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain pelepah bawah mulai terkulai, daun tombak lambat membuka, serta gugurnya buah muda secara massal.

Dalam menghadapi kemarau, Rachmiwati menghimbau juga “Hendaknya petani kelapa berhati-hati dalam melakukan pemupukan. Pemupukan kimia pada puncak kemarau, terutama jika tanah sangat kering, justru dapat berisiko bagi akar tanaman karena unsur hara tidak terserap dengan baik.

Ia menyarankan pemupukan dilakukan sebelum kemarau, saat tanah masih memiliki kelembapan sisa hujan. Sementara pada puncak kemarau, petani sebaiknya lebih fokus pada pemberian bahan organik atau kompos yang dapat membantu mengikat air di sekitar piringan pohon,” tambahnya.

Langkah sederhana lain yang dapat dilakukan adalah penggunaan mulsa sabut kelapa untuk menahan penguapan air tanah, pembuatan parit buntu untuk menangkap sisa air limpasan, serta pembersihan gulma secara selektif. Gulma berdaun lebar dan tinggi sebaiknya dibabat karena bersaing memperebutkan air, namun rumput pendek dapat dibiarkan menutup permukaan tanah agar tanah tidak terbuka langsung terhadap panas.

Selain tindakan di tingkat kebun, pengelolaan air juga perlu dilakukan secara kolektif. Parit, kanal, dan embung kecil di sekitar kebun berperan penting menjaga tinggi muka air tanah. Menurut Rachmiwati, ekosistem air tidak mengenal batas kepemilikan lahan.

Jika satu petani menjaga air, tetapi petani lain membuka pintu air secara sembarangan, maka cadangan air bawah tanah tetap dapat ikut terkuras.
Dampak kemarau yang tidak diantisipasi juga dapat memicu efek domino ekonomi berkepanjangan.

Petani kelapa berisiko kehilangan pendapatan dalam jangka panjang akibat penurunan panen, sementara ekosistem kelapa yang terhubung dari supplu material petani juga dapat menghadapi kekurangan bahan baku. Pada akhirnya, perputaran ekonomi di daerah sentra kelapa juga dapat ikut melemah.

“Jangan tertipu oleh hijaunya daun kelapa hari ini. Rawatlah air dan kelembapan di bawah tanahnya sekarang, karena air yang dihemat hari ini adalah penentu ada atau tidaknya buah kelapa yang bisa dipanen dua tahun ke depan,” tutup Dr. Rachmiwati.

Terkini