BACE - Indonesia menyimpan salah satu spesies paling unik di dunia, Gajah Kerdil Borneo (Elephas maximus borneensis). Satwa endemik ini memiliki ukuran lebih kecil dibanding gajah Asia lainnya, namun ancamannya jauh lebih besar daripada ukurannya.
Menurut laporan WWF Indonesia (2025), populasi gajah kerdil di wilayah Indonesia diperkirakan hanya 30–100 individu, tersebar di hutan Kalimantan Utara, khususnya di Kabupaten Nunukan dan sekitarnya.
Sementara itu, Detik.com (2025) mencatat bahwa di Sabah, Malaysia, populasi gajah kerdil mencapai 1.500–2.000 ekor, menunjukkan bahwa lebih dari 90% populasi subspesies ini berada di luar wilayah Indonesia.
Fakta ini menjadi peringatan serius bahwa Indonesia berisiko kehilangan satwa endemik ikonik ini jika tidak segera ada langkah nyata.
Ancaman terbesar bagi gajah kerdil adalah hilangnya habitat akibat deforestasi dan alih fungsi lahan. WWF Indonesia (2025) melaporkan bahwa kawasan hutan tersisa di Kalimantan Utara semakin terfragmentasi karena ekspansi perkebunan sawit, pembangunan jalan, dan pembukaan lahan pertanian.
Fragmentasi habitat ini memaksa gajah memasuki kebun rakyat untuk mencari makanan, memicu konflik manusia–satwa yang kian meningkat. Data Natural History Museum (2024) menegaskan bahwa populasi yang kecil membuat setiap individu sangat penting bagi keberlangsungan genetik spesies.
Berbeda dengan Malaysia yang memiliki populasi lebih besar dan stabil, gajah di Indonesia menghadapi risiko kepunahan lokal yang jauh lebih tinggi. Setiap kematian individu memberikan dampak signifikan bagi kelangsungan subspesies ini di tanah air.
Kondisi ini harus menjadi alarm bagi semua pihak. Apakah Indonesia akan membiarkan hilangnya satu lagi spesies endemik, atau bersatu untuk mencegah kepunahan lokal ini? Konservasi gajah kerdil harus dilakukan secara holistik dan integratif.
Tidak cukup hanya menetapkan kawasan lindung. Pemerintah dan masyarakat perlu mengelola koridor satwa untuk menjaga konektivitas habitat, mencegah perambahan ilegal, serta melibatkan petani lokal dalam mitigasi konflik.
Edukasi publik juga menjadi kunci agar kesadaran bahwa melindungi gajah berarti menjaga keseimbangan ekosistem, ketahanan pangan lokal, dan masa depan generasi mendatang semakin kuat.
Krisis gajah kerdil Borneo bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga indikator bagaimana kebijakan, pengelolaan ruang hidup, dan keberpihakan terhadap lingkungan menentukan nasib spesies endemik.
Tanpa langkah konservasi segera, Indonesia bisa kehilangan sebagian kecil populasi gajah kerdil yang tersisa, meninggalkan Sabah sebagai satu-satunya tempat mereka bertahan di dunia.
Gajah kerdil Borneo adalah cermin nyata dari hubungan manusia, kebijakan ruang hidup, dan ekosistem. Saatnya semua pihak bangkit bersama, memperkuat kesadaran kolektif, dan bertindak sebelum kesempatan itu hilang selamanya.
Disclaimer:
Tulisan ini disusun berdasarkan data resmi, pemberitaan media nasional dan internasional, serta publikasi lembaga lingkungan. Opini yang disampaikan mencerminkan pandangan penulis dan tidak dimaksudkan untuk menuduh atau menyudutkan pihak manapun.
Penulis: Zainal Arifin Hussein
Dosen Ekonomi UNISI / Pemerhati Lingkungan & Sosial